Penulis: Munzir AlMusawa

Terhina Orang Yang Memanjangkan celananya

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda

orang yang memanjangkan celananya atau sarungnya maka Allah tidak akan memandangnya kelak di hari kiamat”,

Mereka yg memanjangkan celananya atau sarungnya di bawah mata kaki tidak akan dilihat oleh Allah dihari kiamat.

Ini sebagian saudara kita salah paham menganggap hal seperti ini tidak boleh maka mereka mungkin selalu menggulung celananya karena takut tidak dilihat oleh Allah, bukan ini maksudnya.

Karena hadits riwayat Shahih Bukhari ini, diteruskan dan masih ada terusannya,

“Abu Bakar Asshiddiq ra memanjangkan salah satu dari pakaiannya kebawah seraya berkata “Yaa Rasulullah aku memakai pakaian seperti ini apakah Allah tidak melihatku nanti dihari kiamat?”. (Tidak dilihat disini adalah tidak dihormati oleh Allah, yaitu dihina oleh Allah,) Maka berkata Rasul saw : “sungguh kau berbuat seperti itu bukan karena kesombongan”, ”.

nadi yang dilarang itu memanjangkan celana atau sarung karena sombong, Ini hampir tidak ada dimasa sekarang karena dizaman dulu orang bisa membedakan atara orang miskin dengan orang kaya raya dengan melihat celananya atau sarungnya yang dipanjangkan, Kalau orang kaya raya pasti ciri khasnya untuk membanggakan dirinya dia panjangkan celana atau sarungnya karena itu tanda ia selalu naik kereta tidak pernah berjalan kaki.

tapi kalau para budak dan para fuqara pasti celananya dipendekkan karena selalu berjalan diatas debu, Ini zaman dahulu, zaman sekarang hal seperti ini hampir tidak pernah terjadi orang memanjangkan celananya karena tanda kesombongan, dan itu bukan simbol kesombongan lagi, bukan simbol orang miskin bukan simbol orang kaya,

Oleh sebab itu sebagian saudara kita yang salah paham akan pertanyaan seperti ini selalu ditanyakan kepada saya lewat email atau website kesempatan ini saya menjawab,

Keadaan Pecinta Rasulullah SAW Ketika Wafat

Keadaan para pecinta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, wafat mereka dalam keadaan rindu kepada sayyidina Muhammad.

Dalam riwayat yang tsiqah disebutkan ketika sayyidina Bilal bin Rabah dalam keadaan sakaratul maut, maka ia terengah-engah dan terlihat menahan sesuatu, maka istrinya berkata:

“betapa beratnya sakaratul mautmu Bilal”, maka Bilal berkata: “tidak, bukannya aku menahan sakitnya sakaratul maut tetapi menahan ingin segera berjumpa dengan sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan pasukannya, ini bukanlah getaran sakit melainkan getaran kerinduan untuk segera berjumpa dengan sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan pasukannya”,

maka ia pun menghembuskan nafas yang terakhir dalam rindunya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Bahkan sayyidina Muhammad SAW.

Disebutkan dalam sebuah riwayat ketika wafatnya Khalifah pertama sayyidina Abi Bakr As Shiddiq Ra, maka tercium bau hati yang terbakar dari mulutnya, dan ada dua pendapat tentang hal ini,

sebagian pendapat mengatakan bahwa itu disebabkan racun yang ia makan saat ia makan mendahului Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, karena setiap makanan beliau dulu yang memakannya agar tau apakah makanan itu beracun atau tidak, jika beracun maka ia yang akan wafat terlebih dahulu jangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Suatu hari beliau memasukkan makanan yang terdapat racun kedalam mulutnya dan ketika itu Rasulullah berkata:

“makanan ini berkata bahwa ia telah dimasukkan racun, jangan dimakan!”,

namun Abu Bakr As Shiddiq sudah memasukkan kedalam mulutnya agar Rasulullah tidak memakannya lebih dulu jika makanan itu ada racunnya, maka racun itulah yang menyebabkan jantung beliau terbakar. Namun pendapat lain mengatakan bahwa terbakarnya jantung beliau itu karena menahan kerinduan untuk berjumpa dengan sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Hal ini terbukti, putrinya sayyidah Aisyah ummul mu’minin Ra berkata bahwa setiap malam selesai sayyidina Abu Bakr shalat tahajjud terdengar seperti suara air mendidih dari tenggorokan beliau karena menahan tangisan rindu untuk berjumpa dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

 

Demikian pula wafatnya sayyidina Umar bin Khattab Ra, ketika ia sudah ditusuk dari beberapa arah, ia terengah-engah meminta susu kemudian ia dibawa ke rumahnya dan diberi minum susu, dan susu itu keluar dari perut bekas lukanya, ia tau bahwa sakaratul maut sudah dekat maka ia memanggil putranya sayyidina Abdullah bin Umar dan berkata:

“wahai Abdullah, pergilah engkau kepada sayyidah Aisyah ummul mu’minin, dan katakan padanya jika diizinkan aku ingin dikuburkan disebelah makam Rasulullah”,

inilah wasiat terakhir Umar bin Khattab. Maka sayyidina Abdullah menemui sayyidah Aisyah dan diizinkan oleh sayyidah Aisyah karena Rasulullah memang dimakamkan di rumah sayyidah Aisyah RA. Sayyidina Abdullah datang kepada sayyidna Umar dan menemui beliau teresengal-sengal menahan sakaratul maut dan berkata:

“wahai putraku Abdullah apa yang sayyidah Aisyah katakan?”, maka sayyidina Abdullah bin Umar berkata: “sudah diizinkan wahai Ayah”, kemudian sayyidina Umar bersandar dan berkata: “Demi Allah, tidak ada yang lebih aku harapkan daripada dikuburkan di sebelah makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam”,

demikian yang diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari. Dan di masa hidupnya beliau selalu berdoa:

اَللّهُمَّ ارْزُقْنِي شَهَادَةَ في بَلَدِ رَسُوْلِك

“ Wahai Allah berilah kepadaku mati syahid di kota utusan-Mu “

 

Demikian pula wafatnya sayyidina Utsman bin Affan Ra, di hari terakhir dalam hidupnya ia bermimpi bertemu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang berkata:

“Wahai Utsman, apakah engkau mau berbuka bersama kami, jika ia maka kamu berpuasalah esok hari”,

maka keesokan harinya sayyidina Utsman berpuasa, dan di saat mendekati maghrib datanglah orang ke rumahnya dan masuk ke dalam kamarnya kemudian menghunuskan pedang ke kepala beliau, dan wafatlah sayyidina Utsman di waktu maghrib memenuhi panggilan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk berbuka bersama puasa bersama beliau.

Demikian pula wafatnya sayyidina Ali bin Abi Thalib Kw Ra, dalam beberapa hari sayyidina Ali terus berkata:

“mana orang yang telah dikatakan oleh Rasulullah bahwa dia akan datang dan memukul kepalaku dengan pedang di saat aku shalat sehingga darahku mengalir?!”, karena Rasulullah telah mengabarkan hal itu kepada sayyidina Ali : “Wahai Ali, hari perjumpaanmu denganku adalah ketika seseorang datang kepadamu diwaktu engkau shalat dan memukul kepalamu dengan pedang sampai darah mengalir dan menetes ke jenggotmu, maka di saat itulah engkau akan bertemu denganku”,

maka sayyidina Ali menanti-nanti orang itu yang akan memukul kepalanya dengan pedang karena ingin segera bertemu dengan sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Demikian keadaan mereka para pecinta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Kerugian Yang Abadi Jika Kehilangan 4 Hal Ini

Dialah Allah, Tiada Tuhan selain Allah, Yang Maha Mengumpulkan kita dengan keimanan kepada Nya, Allahu ?Allahu? Tiada Tuhan Selain Allah?, Yang Maha Merangkul kita dalam Majelis Rahmat Nya, Allahu.. Allahu? Tiada Tuhan Selain Allah.. Dia sedang memandang kepada dasar Sanubari kita, memperhatikan segala apa yang tersembunyi dalam relung hati kita yang terdalam, Maha Melimpahkan Kebahagiaan pada kita yang bersungguh – sungguh, Maha Menghadapi dengan Dzat Nya Yang Maha Indah kepada siapa – siapa dari kita yang menghadap kepada Nya, Maha Menggenggam dengan Genggaman Kasih Sayang Nya pada siapapun dari kita yang menghadap dan berharap kepada Nya, Raja dari para Raja, Maha Berwibawa diatas seluruh pemilik Kewibawaan, dalam Genggaman Nya segala permasalahan, Kepada Nya pula kembali segala permasahan, Maha Luhur Dia Yang dalam Genggaman Nya Kerajaan Alam dan Dia Berkuasa atas segala sesuatu, Yang Menciptakan Kehidupan dan Kematian untuk menguji kalian yang mana diantara kalian yang paling baik perbuatannya, Dan Dia Maha Perkasa dan Maha Mengampuni *(QS AL Mulk. 1-2),

 

Maka Kita Memohon Kepada Yang Maha Perkasa dan Maha Pengampun, agar seluruh kita semua dan semua yang hadir dijadikan sebaik – baik makhluk Nya dan yang terbaik dalam perbuatannya, Wahai Yang Maha Menciptakan kami dan Maha Menciptakan Tujuh Lapis Langit dan Bumi untuk menguji kami siapakah diantara kami yang paling baik perbuatan amalnya, Janganlah Kau dekatkan kami dari keburukan dalam ucapan dan perbuatan, Janganlah Kau dekatkan kami dari keburukan akitifitas seluruh anggota tubuh kami, dan anugerahilah (anggota tubuh) kami sebaik – baik perbuatan, dan pula bagi sanubari kami anugerahilah sebaik – baik perbuatan, penuhilah ia dengan sebaik – baik sifat, dan seindah – indah sifat, semulia kemuliaan sifat, Wahai Tuhan sekalian manusia, Wahai Yang Maha Mendengar setiap doa, Wahai Yang Maha Cepat dalam Berkehendak, Pada Pintu Mu Yang Maha Tunggal

 

Kupasrahkan segala bebanku dan beban semua hadirin ini, dan aku berdiri Menghadap kepada Mu demi Kekasih Mu, Sang Kekasih Yang dilimpahi hak untuk memberi Syafaat, Sayyidina Muhammad, Sang Bulan Purnama yang mulia terang dan Pemilik Kedudukan Yang Luas, Shalawat serta salam semoga selalu terlimpah pada beliau (saw). Wahai Yang Kami taruhkan beban kami kepada Nya, dan Yang Kami pasrahkan segala permasalahan kami kepada Nya, dan kami bertumpu kepada Nya, dan keadaan kami tak tersembunyi dihadapan Nya, jadikanlah setiap orang dari semua hadirin ini merupakan pembuka dari kemuliaan dan pengunci dari kehinaan, dan jadikan setiap satu dari semua mereka ini, penyebab dari tersebarnya kemuliaan, pembangkit kemuliaan, dan segala perbuatan mulia, dan penyebab dari terhindarnya Musibah dari ummat ini Wahai Rabbul ?alamiin

Dan telah mengalir hikmah Nya, bahwa dari perbuatan maksiat keturunan Adam, akan muncul petunjuk sebagai peringatan, dan setiap kali alam pemikiran manusia bertumpu dengan menghadap kepada sesuatu selain Nya, dari sesuatu yang membuatnya berpaling, maka akan muncullah atas mereka dari kehidupan ini pertanda bahwa hal itu sia – sia dan tiada tempat kembali kecuali hanya kepada Nya, siapakah di alam ini yang mampu menyingkirkan penyakit?, siapa pula di alam ini yang mampu meredam gempa?, siapa pula di alam ini yang mampu menyingkirkan banjir tsunami?, siapa pula di alam ini yang mampu menahan guntur dan kilat?, siapa pula yang mampu menahan wabah penyakit untuk menyerang suatu Negara?, Hanya Allah Yang Maha Tunggal.. Hanya Allah Yang Maha Tunggal.., Tiada Sekutu bagi Nya.

Dia Berfirman : ?DAN KAMI AKAN MEMBERIKAN DARI SIKSA YANG KECIL, yaitu musibah – musibah jasad di dunia yang hina ini, SEBELUM SIKSA YANG DAHSYAT, lebih pedih, lebih menyakitkan, lebih menakutkan kelak, AGAR MEREKA KEMBALI?. Barangkali mereka teringatkan, bahwa keberpalingan kepada selain Allah adalah sia – sia, hina, dan kemerosotan yang jelas, dan segala permasalahan digenggaman Yang Maha Esa dan Tunggal, Maha Sendiri dan Maha Tak berubah dalam kekuasaan Nya, Dialah Allah?!, Maha Tinggi dalam kemuliaan Nya, Tiada Tuhan Selain Nya.

show